Senin, 21 Februari 2011

TEOLOGI DOA 2

BULETIN DOA
Teologi Doa 2
Februari 2011, Vol.03 No.24
Shalom,
Edisi e-Doa kali ini menekankan hal mencari kerajaan dan kebenaran Allah, yaitu menempatkan Tuhan Yesus dalam hati kita sebagai titik pusat dari seluruh kehidupan kita. Yesus bertakhta di dalam hati kita, jadi menjaga hati adalah perkara yang penting untuk dilakukan, sekalipun jalan kita lurus, benar, namun jika dalam hati kita tidak memiliki kasih maka tidak akan berguna. Tuhan memberkati!

Redaksi Tamu e-Doa,
Santi Titik Lestari < http://doa.sabda.org >


Carilah Kerajaan Allah

Mari kita pikirkan istilah kerajaan. Kita akan menyinggung tiga hal saja mengenai istilah ini. Pertama, kerajaan Allah berlainan dengan sistem kerajaan dunia. Ini merupakan suatu teokrasi dari surga, di mana Allah yang bersifat ilahi memunyai satu hak, yaitu menjadi Tuhan di dalam kerajaan ini. "The Lordship of God", ketuhanan Allah, sifat keilahian Allah, itulah yang menjadikan Dia berkuasa di dalam kerajaan ini. Allah tidak perlu pemilihan umum, Allah tidak perlu engkau memberikan suara supaya Dia menjadi Allah. Tidak. Allah bukan akibat engkau memilih, saya memilih, maka jadilah Dia Allah. Engkau dan saya ada akibat diciptakan oleh Dia. Orang Kristen harus ingat, bahwa Allah memunyai sifat ketuhanan di dalam kerajaan-Nya. Kita harus mengakui sifat ketuhanan-Nya. Maka unsur pertama dari kerajaan ini adalah sifat ketuhanan, sifat kerajaan Allah (the Lordship, the Kingship of God).

Unsur kedua adalah kuasa di dalam kerajaan-Nya. Tidak ada kerajaan yang tidak memerlukan kuasa. Tidak ada kerajaan yang tidak memerlukan pemerintahan. Tidak ada kerajaan yang tidak memerlukan senjata. Allah memunyai kuasa otoritas dan otoritas Allah adalah otoritas yang tertinggi di dalam dunia kelihatan maupun dunia tidak kelihatan. Itulah sebabnya kerajaan ini memunyai lingkup yang amat besar. Pada waktu engkau berlutut dan berdoa, jangan lupa bahwa engkau sedang berada di bawah kuasa yang tertinggi itu. Berdoalah dengan penuh kesadaran bahwa engkau sedang menghadap Allah yang tertinggi.

Pada tahun 1741, komponis Jerman, Handel menggubah oratorionya yang terkenal, Mesias, di Inggris. Kemudian ia membawa karya itu ke Irlandia dan mementaskannya di sana tahun 1742. Tahun 1743 ia diundang kembali ke London untuk mementaskan karya itu, karena orang sudah mendengar bahwa oratorio itu luar biasa. Waktu kembali ke London bukan hanya ahli-ahli musik ingin mendengar Mesias, tetapi juga raja Inggris. Waktu mendengar sampai bagian "King of Kings, Lord of Lords" dari chorus Hallelujah, raja Inggris sadar bahwa Yesuslah Raja yang sesungguhnya. Ia raja kecil, raja Inggris. Padahal waktu itu Inggris adalah kerajaan terbesar di dunia, yang memunyai armada laut paling kuat dan memunyai daerah koloni paling banyak. Sampai orang mengatakan, orang Inggris tak perlu menurunkan benderanya. Kalau tanah-tanah di Asia sudah menjadi gelap dan bendera diturunkan, tanah-tanah di Barat sudah pagi dan bendera dinaikkan. Karena itu di seluruh dunia bendera Inggris belum pernah diturunkan. Allah memilih Handel yang orang Jerman tidak menggubah Hallelujah di Jerman, tapi di Inggris, lalu mengatur supaya Raja Inggris ikut mendengarnya. Pada waktu Raja George II berdiri mendengarkan Hallelujah dia mengaku, "I am only the king of England, but Jesus Christ is the King of Kings and the Lord of Lords."

Pertama, ketuhanan-Nya; kedua, kekuasaan-Nya; dan ketiga, wilayah pemerintahan-Nya. Kalau kita memikirkan kerajaan, kita memikirkan ketiga hal ini. Siapa rajanya? Sampai di mana kekuasaannya? Di mana wilayah pemerintahannya? Tuhan memunyai wilayah pemerintahan di dalam seluruh alam semesta. Itu adalah wilayah pemerintahan yang alamiah (the natural authority and the natural domain). Yang kita bicarakan di sini bukanlah demikian, tetapi suatu wilayah pemerintahan yang supernatural. Apa arti kalimat ini? Ini berarti Tuhan melalui penebusan Yesus Kristus, memiliki orang-orang yang sudah menjadi warga Kerajaan Surga, dan Ia memerintah dalam hati mereka. Ketika ditanya, di manakah Kerajaan Surga, Yesus menjawab, "Kerajaan Surga ada di dalam hatimu". Apa artinya itu? Berarti wilayah pemerintahan Kerajaan Allah sudah sampai ke dalam hatimu. Di dalam hatimu seharusnya terdapat takhta Tuhan. Ini menyangkut pusat hidup. Segala sesuatu dalam hidupmu keluar dari hatimu. Oleh sebab itu peliharalah hatimu lebih daripada hal-hal lain.

Apa bedanya orang Kristen dengan orang bukan Kristen? Apa bedanya orang yang menjadi warga Kerajaan Surga dan orang bukan warga Kerajaan Surga? Hanya satu, yaitu di dalam hati mereka ada takhta Tuhan atau tidak ada takhta Tuhan. Celakalah engkau yang selalu memikirkan bagaimana merugikan orang lain, merusak orang lain. Celakalah engkau yang hatinya selalu memerintah dengan kuasa kejahatan dan diperintah oleh kejahatan serta nafsu dan hasrat yang buruk dari motivasi yang ditimbulkan oleh setan. Celakalah engkau kalau di dalam hatimu ada takhta setan, bukan takhta Tuhan. Tetapi berbahagialah engkau yang sudah diisi dengan kebenaran dan di dalam kebenaran engkau rela menaati Allah yang bertakhta di hatimu. Orang yang demikian, hatinya penuh dengan perkataan, penuh dengan kekuasaan, penuh dengan kemuliaan Allah yang melimpah keluar.

Carilah Kerajaan Allah dan jadikanlah dirimu orang yang mengaku ketuhanan-Nya, mengaku kuasa-Nya. Jadikanlah dirimu wilayah yang diperintah oleh-Nya. Inilah yang dimaksud carilah kerajaan Tuhan. Sebenarnya kerajaan ini begitu luas, tetapi Tuhan tidak pernah memaksa seseorang untuk percaya kepada Dia, sehingga hanya melalui penginjilan, wilayah ini akan bertambah-tambah. Mari kita berdoa supaya Kerajaan Allah bertambah-tambah, supaya anak Tuhan yang tersebar mengabarkan Injil, supaya di seluruh dunia penginjilan terus berkembang. Hendaklah setiap orang yang mengerti firman Tuhan menaklukkan hati mereka ke bawah kaki Tuhan. Setiap orang yang dikuasai oleh Tuhan makin melembutkan diri di bawah pemerintahan-Nya, dan wilayah pemerintahan Tuhan terus bertambah.

Carilah Kebenaran Allah

Kebenaran keadilan di sini adalah persis lawannya dosa. Istilah dosa dalam bahasa Yunani adalah 'hamartia', artinya tidak tepat, tidak mengenai target, tidak kena sasaran. Seperti misalnya engkau melepaskan tembakan, untuk menembak orang dengan kepalanya yang kena, tetapi tidak kena orangnya, melainkan pohon di belakangnya. Maka engkau mengatakan, tidak kena. Itulah 'hamartia'. Sedangkan arti 'righteousness' tepat sebaliknya, yaitu kena, cocok, sesuai, mengikuti standar. Istilah ini waktu diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa memakai satu kata, yaitu 'ih' yang berarti persis sama, tidak lebih tidak kurang. Kalau tidak lebih tidak kurang berarti akurat dan cocok.

Dalam Alkitab dikatakan bahwa dosa berarti kekurangan atau kelebihan. Kadang-kadang kita mengkritik orang, "Ini orang terlalu kurang, masa ini nggak ngerti itu nggak ngerti." Atau sebaliknya,"Orang ini keterlaluan." Nah, kalau kita katakan keterlaluan itu berarti kelebihan; lebih apa, lebih bagus? Tentu tidak. Melainkan kelebihan tindakannya: kemarahan lebih, kecongkakan lebih, perkataannya lebih. Keterlaluan atau kekurangan, itulah makna hamartia. Tetapi siapa yang persis, tepat, akurat, menurut apa yang dikehendaki oleh Tuhan, menurut standar Allah, itu adalah Yesus Kristus. Maka Yesus adalah satu-satunya orang benar dan kita dibenarkan di dalam Yesus Kristus. Ada lima aspek kebenaran Allah:

1. Ketulusan, kelurusan seseorang.

Carilah yang tulus, yang lurus, yang benar-benar tegas. Dunia ini adalah dunia yang penuh dengan kebengkokan. Di dalam dunia yang tidak lurus, yang tidak tulus, kita harus menjadi orang Kristen yang terus terang, yang lurus, tidak bengkok-bengkok. Kesungguhan dan kelurusan ini adalah aspek pertama dari istilah kebenaran keadilan. Tetapi jangan bersikap lurus lalu kurang cinta kasih. Kelurusan di dalam kasih, itulah kebenaran Allah. Banyak orang lurus, jujur tetapi tidak ada kasih, suka marah. Gereja sering berselisih, orang Kristen sering bertengkar, karena apa? Mereka berkata benar, lurus, tidak bohong, tetapi kurang cinta kasih. Lurus yang ada kasihnya, itulah kebenaran dan keadilan Allah.

2. Tidak memandang bulu.

Anda melihat orang Barat dan orang Asia, sama tidak? Anda melihat atasan dan bawahan, sama tidak? Belajarlah terhadap siapa pun memakai keadilan kebenaran: kepada orang kaya sama, kepada orang miskin sama, kepada atasan sama, kepada bawahan juga sama. Ini satu sikap yang perlu kita tuntut. Seorang benar mengetahui bagaimana menyatakan keadilan kepada siapa pun. Yesus Kristus ketika di dunia menyatakan keramahan, kesopanan kepada orang yang miskin, yang buta, yang sakit kusta, semua diterima-Nya dengan baik. Tetapi terhadap pemimpin-pemimpin yang tidak benar Dia berani menegur. Tetapi ini tidak berarti bahwa Tuhan Yesus khusus menyenangi orang miskin, membela orang miskin, mereka tak bisa salah, sedangkan orang kaya salah. Itu tidak benar. Meskipun orang Kristen harus memelihara orang miskin tetapi tidak berarti membela kesalahan orang miskin, atau menegur orang kaya saja. Tidak.

Pada waktu orang berkedudukan seperti Nikodemus datang, Yesus menerima-Nya dengan baik. Keadilan Yesus begitu jelas, kepada pemimpin-pemimpin agama Dia begitu sopan, kepada orang miskin pun Dia sama sopan. Dia menerima keduanya, Dia memunyai keadilan yang begitu seimbang. Di atas kayu salib seruan perampok yang bertobat dijawab oleh Yesus dengan keindahan yang luar biasa. "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Jawab Yesus, "Hari ini -- bukan hari itu, bukan waktu kedatangan-Ku tiba -- tetapi hari ini juga, Aku bawa engkau ke Firdaus" -- penghiburan-Nya begitu indah, jawaban-Nya begitu sopan, Dia menghormati orang yang sungguh-sungguh mencari kerajaan-Nya.

3. Kebenaran yang penuh dengan Firman.

Aletheia dimasukkan dikaisune. Orang yang benar adalah orang yang lurus, tidak bengkok, orang yang adil, tidak memandang bulu, tidak membeda-bedakan kaya, miskin, pintar, bodoh. Orang yang memunyai kebenaran adalah orang yang mengisi hatinya dengan firman Allah. Bukan mengisi dengan kebohongan, bukan mengisi dengan kepura-puraan. Apa yang dikerjakan, apa yang dikatakan betul-betul sesuai dengan kebenaran. Jadi yang benar adalah yang sejati. Hati-hatilah dengan kepura-puraan, kemunafikan yang merusakkan jiwa dan rohani. Kalau kita memang kurang baik jujurlah bahwa kita memang kurang baik, tetapi kalau kita berpura-pura seolah-olah baik kita lebih jauh dari kebenaran. Kesejatian adalah salah satu unsur yang paling penting di dalam keadilan dan kebenaran Allah.

4. Kesucian sebagai esensinya.

Seorang benar adalah seorang yang suci, seorang yang membenci segala kenajisan. Tuntutlah ini, carilah kesucian; seumur hidup engkau menuntut kesucian, tidak memperbolehkan setan bersarang di dalam jiwamu, tidak mengizinkan dosa bersarang di dalam jiwamu, tidak mengizinkan nafsu merajalela di seluruh anggota tubuhmu. Usirlah segala kenajisan, segala hal yang tidak beres, yang kotor, keluar dari jiwa dan tubuhmu, maka Anda menjadi seorang yang didiami oleh Roh yang suci. Pada waktu Roh Kudus berusaha menguduskan engkau taatilah Dia, Dia akan menjadikan engkau bebas dari kenajisan dan kecemaran. Peliharalah dirimu menjadi orang yang suci. Orang seperti ini meskipun di hadapan manusia dia orang biasa, tetapi di hadapan Tuhan Allah dia bernilai tinggi sekali.

5. Ketegasan yang tidak berkompromi.

Seorang benar adalah seorang yang tidak berkompromi, seorang yang memunyai ketegasan. Ketegasan ini menjadikan dia berpendirian, mengakibatkan dia memunyai suatu prinsip yang tidak boleh dikompromikan.

Prinsip Kebenaran dalam Kerajaan Allah

2 Petrus 3 mengatakan, "Menanti langit yang baru dan bumi yang baru, yang di dalamnya terdapat kebenaran." Pada waktu Yesus Kristus berkata: "Kerajaan-Ku bukan berasal dari dunia ini, "berarti kerajaan Allah dari surga dan dunia ini penuh dengan dosa. Prinsip pemerintahan di dalam wilayah kerajaan dunia adalah prinsip dosa. Tetapi prinsip pemerintahan di dalam wilayah kerajaan Allah adalah prinsip kebenaran. "Carilah lebih dalam dan takluklah pada kebenaran; biarlah kebenaran yang menjadi prinsip pemerintahan di dalam pikiranmu, jiwa, tingkah laku, pertuturanmu, tindak-tandukmu, hasratmu, dan di dalam doa kita. Kalau berdoa, berdoalah yang benar, kalau berkata-kata, berkatalah yang benar, kalau menuntut sesuatu, tuntutlah yang benar, kalau berdoa, doakan kebenaran, kalau mengabarkan Injil, kabarkan dengan kebenaran yang diberikan oleh Tuhan Allah.
Diambil dari: Judul buletin: Surat Doa No. 2 Maret -- April 1988
Judul artikel: Teologi Doa 2
Penulis: Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit: Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta


Kontak: < doa(at)sabda.org > Redaksi: Novita Yuniarti, Fitri Nurhana
(c) 2011 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://www.ylsa.org > Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati < http://blog.sabda.org/ > < http://fb.sabda.org/doa >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >

Tidak ada komentar:

Posting Komentar