Sabtu, 19 Februari 2011

TEOLOGI DOA 1

BULETIN DOA -- Teologi Doa 1
Januari 2011, Vol.03 No.22
Shalom,Berdoa adalah salah satu jalan untuk mengerti isi hati Tuhan dan menyampaikan maksud hati kita. Namun, kebanyakan dari kita masih egois dalam berdoa. Kita sering memaksa Tuhan untuk mengikuti kehendak kita. Lalu, bagaimanakah cara mengungkapkan doa secara benar di hadapan Tuhan? e-Doa edisi 22 akan membahas teologi doa yang benar. Jangan sampai Anda melewatkan sajian perdana kami. Tuhan memberkati!
Redaksi Tamu e-Doa, Santi Titik Lestari http://doa.sabda.org
Saya telah berbicara dengan beberapa orang, mengenai hidup doa orang Kristen yang secara umum sangat mengecewakan. Doa yang merupakan tindakan manusia terhadap Allah yang begitu serius, begitu hormat, dan begitu indah maknanya, kebanyakan telah menjadi suatu pengutaraan egoisme. Banyak orang mempergunakan doa untuk memenuhi egoisme mereka. "Tuhan, saya mau, berikan kepada saya apa yang saya mau, inilah kehendakku." Saya dengan tegas menentang dan dengan tegas pula saya menjawabnya, "Bukan demikian." Mari kita mulai memikirkan bagaimana seharusnya kita berdoa. Bukan mengenai sikap tubuh harus bagaimana, bukan bahasa yang dipakai harus seindah apa, bukan bagaimana cara melipat dan meletakkan tangan yang indah agar kelihatan lebih saleh dan lebih beribadah, melainkan mengenai teologi doa menurut Alkitab, -- apa arti berdoa dan bagaimana cara berdoa sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan. Untuk memahami hal ini, kita akan membaca beberapa ayat dalam Alkitab.
Pertama, Matius 5:10, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga."
Kerajaan Surga sudah dimiliki oleh mereka, tetapi raja di dalam kerajaan itu membiarkan mereka dianiaya, dan mereka rela dianiaya karena mereka tahu bagaimana memelihara kebenaran. Orang yang dianiaya bukan orang yang malang, melainkan orang yang bertahan. Ini sangat menarik perhatian, yaitu kaitan antara kedua hal ini: Dianiaya tetapi tidak ditolak, hanya dijanjikan bahwa mereka memunyai kerajaan. Raja mereka membiarkan mereka dianiaya di dalam kerajaan lain. Raja dunia, raja manusia menganiaya mereka, tetapi mereka memunyai kerajaan lain. Allah tidak menolong, tetapi malah membiarkan mereka. Kemudian Matius 6:31, "Sebab itu janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Sekali lagi muncul istilah kerajaan dan kebenaran.
Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang memunyai kerajaan. Dan orang semacam itu mencari kerajaan dan kebenaran Allah. Kita membaca lagi dari 2 Petrus 3:10-13, "Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup, yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran." Sekali lagi, kita menantikan langit dan bumi baru yang akan tiba dan yang sekarang ini akan hancur, lenyap, hangus terbakar. Dalam bahasa Yunani istilah "hangus dibakar" memunyai arti yang sama seperti terjadinya penghangusan di dalam ledakan nuklir Dunia akan lenyap tetapi kita mengharapkan kerajaan yang akan datang, yang ada kebenaran di dalamnya.
Pada ketiga ayat di atas, terdapat dua hal yang digabungkan yaitu kerajaan Allah dan kebenaran. Ada dua istilah dalam bahasa Yunani yang bersangkut-paut dengan istilah kebenaran. Yang pertama ialah 'Aletheia', yang diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai 'Truth'. Yang kedua ialah 'Dikaiosune', yaitu 'kebenaran keadilan'. Semua ayat di atas tidak memakai 'Aletheia', jadi bukan memakai 'kebenaran' sebagai 'Truth' tetapi sebagai 'kebenaran keadilan'. Carilah kerajaan dan kebenaran Allah. Ini menjadi titik pusat doa kita. Ini berarti suatu keadilan yang menjadi kebenaran, di mana kita ditebus dan diberi keadilan serta dibenarkan. Allah yang adil pada waktu mengadili kita telah memakai keadilan-Nya untuk menjadikan kita orang yang dibenarkan. Dalam bahasa Yunani dipakai istilah yang khusus dalam pengadilan, yaitu bahwa seseorang tidak lagi dianggap bersalah. Jadi maksudnya, Allah tidak lagi menganggap orang itu berdosa. Allah memperhitungkan orang itu sebagai orang yang tidak perlu dihukum. Istilah ini merupakan istilah yang serius, di mana manusia memunyai status yang baru, yaitu tidak lagi perlu dihakimi, tidak perlu dihukum.  Apakah yang memungkinkan kita tidak dihukum, apakah yang memungkinkan kita dianggap orang yang benar? Apakah yang memungkinkan kita menjadi anak-anak Allah yang dihapus dosanya? Apakah karena kemarahan Allah telah dikompromikan? Jawabannya, tentu saja, tidak. Tetapi karena kemarahan dan tuntutan keadilan Allah yang tidak berkompromi itu sudah digenapi dan dipuaskan melalui kematian Yesus Kristus di kayu salib. Itulah alasannya mengapa kita dianggap tidak berdosa. Ini dari sisi negatifnya. Dari sisi positif, kita diberi kebenaran oleh Yesus Kristus sehingga kita menjadi anak-anak Allah. Ini adalah doktrin yang sangat penting, yang ditemukan kembali oleh Martin Luther pada waktu dia mengadakan reformasi: "Kita dibenarkan oleh iman." Roma 4 dan 5 berkata bahwa Dia diserahkan karena orang berdosa, maka dosa kita diampuni. Dan karena kebangkitan-Nya kita sudah dibenarkan. Jadi, di sini ada dua aspek penting: Kita tidak lagi dianggap orang berdosa, kemudian kepada kita ditambahkan kebenaran yang ada pada Kristus. Kristus adalah yang benar itu. Dialah satu-satunya yang suci, satu-satunya yang benar, satu-satunya yang tidak berdosa. Dia dengan kebenaran yang sudah dicapai melalui kebangkitan-Nya, membagikan kebenaran itu kepada kita dan kita menjadi orang benar di hadapan Tuhan.
Inilah arti kebenaran dalam ketiga ayat tersebut. Jadi siapa saja yang berada di dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang sudah dibenarkan. Mereka yang belum dibenarkan tidak memiliki Kerajaan Allah. Siapakah orang Kristen yang sejati? Siapakah orang Kristen yang berada di dalam Kerajaan Allah? Yaitu mereka yang sudah dibenarkan. Jikalau Anda hanya menjadi anggota gereja tetapi belum pernah bertobat, belum pernah sungguh-sungguh menerima Kristus, belum pernah dilahirkan kembali, Anda belum menjadi anggota Kerajaan Allah. Warga negara Kerajaan Allah adalah mereka yang dibenarkan satu per satu oleh darah Kristus. Karena kita berada dalam kerajaan ini dan berada dalam status kebenaran, maka kita sekarang memikirkan kerajaan ini dan kebenaran ini. Kita bersalut dengan kebenaran ini dan menyatakan, merefleksikan, serta menjadi saksi dari kebenaran ini untuk Kerajaan Allah.  Arti Berdoa? Apakah artinya berdoa? Yesus Kristus mengatakan bahwa carilah kerajaan dan kebenaran Allah. Ini berarti kita harus berusaha di dalam kegiatan kita untuk menemukan, mengejar, menuntut dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh, untuk kerajaan dan keadilan Allah. Di dalam dunia di mana tidak ada kuasa Allah yang menonjol, di mana manusia selalu menolak Kerajaan Allah, di situlah kita akan melebarkan kerajaan-Nya di dunia ini. Di dalam dunia ini tidak terlihat nyata keadilan Allah. Dalam dunia yang penuh dengan ketidakadilan inilah kita berusaha menuntut keadilan yang dinyatakan oleh Kristus di atas kayu salib.
Carilah kerajaan dan kebenaran Allah. Ini menjadi titik pusat doa kita. Saya tidak tahu apakah Anda pernah memikirkan hal ini: Apakah sikap tubuh manusia yang paling indah, yang paling menyatakan suatu relasi yang paling indah di hadapan Allah? Itulah sikap pada waktu engkau berdoa! Waktu seorang anak kecil berdoa ia berlutut dengan mata tertutup, tangan terlipat, lalu ia berkata-kata kepada Allah yang tidak ia lihat. Di situ nyata hubungan antara kita yang bertubuh alami dengan suatu dunia supraalami; melalui iman kita menerobos ke dalam dunia supraalami itu. Manusia menaikkan doa karena dia perlu. Dia bukan hanya berada dalam dunia yang kelihatan, melainkan dia memunyai aspek keadaan yang tidak kelihatan. Dia mau menerobos limitasi -- itu artinya doa. Anda perlu doa. Dalam bahasa Ibrani istilah menyembah adalah 'Tupentau' -- engkau bertelut atau sedang membengkokkan diri. Di hadapan Allah engkau harus merebahkan diri, merendahkan diri. Di hadapan Allah engkau menyatakan dirimu adalah orang yang rendah dan memerlukan Dia. Dari aspek lain kita melihat, pada waktu seseorang berdoa, ia berkata-kata kepada Tuhan, pada waktu itu ia sedang menyatakan sifat relativitas di dalam eksistensinya. Sifat relativitas di dalam eksistensi manusia, berarti manusia berada, bukan di dalam keberadaannya yang mutlak, bergantung pada dirinya sendiri -- tidak! Melainkan kita berada di dalam keberadaan yang mau tidak mau, memerlukan relasi dengan yang mengadakan keberadaan itu. Jadi Allah yang mengakibatkan saya ada, adalah sumber keberadaan. Sumber keberadaan yang menciptakan saya sehingga saya ada. Keberadaan saya lain dengan keberadaan Allah. Keberadaan Allah adalah keberadaan yang bergantung kepada diri sendiri, yang cukup di dalam diri, dan tidak bergantung kepada siapa pun. Itulah Allah. Tetapi saya diciptakan oleh Allah, bergantung kepada Allah yang menciptakan, bergantung kepada Allah yang mengakibatkan saya ada, Dia adalah sumbernya ada. Karena Dia adalah sumbernya ada, maka saya ada menghadap kepada Dia: orientasi saya, arah saya, pengutaraan saya harus menuju kepada Allah. Disini kita melihat eksistensi manusia yang ada, sedang menghadap kepada Sumber keberadaan. Itulah doa Doa bukan hanya berlutut di situ, bersungut-sungut, memaki-maki orang lain. Ada orang berdoa, "Oh Tuhan, orang seperti ini kok bisa hidup, matikan saja, dia itu kurang ajar."
Apakah itu doa? Doa juga bukan pengumuman. Ada seorang pendeta di Amerika yang lupa mengumumkan bahwa esok harinya seorang anggota yang meninggal akan dikuburkan. Lalu ia memakai doa untuk mengumumkan, "Tuhan, Engkau tahu besok pukul 8 kami akan menghantar jenazah. Kiranya Tuhan mengingatkan Saudara-saudara yang lain." Doa bukan pula permainan kata, doa bukan suatu pemasyuran keagamaan kita. Doa adalah suatu pengakuan relativitas eksistensi. Kita sedang menghubungkan diri kita kepada Allah dan Allah adalah Sumber Eksistensi itu. Saya datang kepada Tuhan, Sumber yang mengadakan keberadaan. Saya berada di bawah kaki-Nya. Saya berdoa. Lalu tinggal keinginan kita di dalam doa kita kepada Dia. Dalam kata-kata yang mencetuskan suatu hasrat yang sedalam-dalamnya, yang keluar dari sanubari kita, kita harus mencari satu titik pusat. Titik pusat itu di mana? Titik pusat itu akan memengaruhi segala kegiatan kita, baik jasmani maupun rohani. Titik pusat itu akan mengakibatkan kita mendapatkan sesuatu setimpal dengan apa yang kita minta. Titik pusat itu seharusnya adalah: mengerti apakah sebabnya kita berdoa, bagaimana seharusnya kita berdoa, dan kita berdoa tentang apa. Pada waktu murid-murid Tuhan Yesus berkata kepada Yesus, "Guru, ajarlah kami berdoa," Yesus langsung mengajarkan kalimat-kalimat yang terindah yang pernah muncul dalam sejarah tentang bagaimana isi doa manusia kepada Tuhan. Dalam kalimat pertama dari doa yang diuraikan oleh Tuhan Yesus, langsung muncul relasi rohani -- relasi Kerajaan Surga: "Bapa kami yang di surga". Itu bukan sekadar relasi saat ini yang sedang menghadap, sedang berbicara. Bukan sekadar relativitas eksistensi yang dinyatakan, tetapi juga relasi intim antara Bapa dengan anak. Ini doktrin yang penting, ini teologi yang benar.
Pada waktu engkau berdoa, engkau sedang memakai hak istimewa sebagai anak. Allah sebagai Bapa, saya sebagai anak, saya datang kepada Bapa, saya berbicara dengan ayahku. Betapa besar hak istimewa ini. Kalau hak istimewa ini demikian besar dan kita tidak suka berdoa dan tidak mengerti doktrin doa, kita adalah orang yang terlalu menyia-nyiakan anugerah Tuhan. Jangan mempermainkan doa, jangan memutar-balikkan arti doa. Doa bukan memaksa Tuhan menjalankan kehendakku. Doa adalah berusaha memaksa diriku supaya sesuai dengan kehendak-Nya. Doa tidak berusaha mengubah kehendak Tuhan. Doa berusaha mengubah diriku supaya sesuai dengan kehendak Tuhan. Anda mungkin sering membaca sebuah ungkapan, "Doa bisa mengubah segalanya." Dari satu sisi, fenomena ini ada benarnya. Tetapi dari seluruh doktrin Alkitab kita harus lebih kritis. Saya lebih suka mengatakan, "Doa bisa mengubah dirimu sendiri." Engkau mengubah dirimu sendiri agar sesuai dengan kehendak Allah. Pada waktu engkau berdoa, engkau sedang memakai hak istimewamu sebagai anak. Allah sebagai Bapa, saya sebagai anak, saya datang kepada Bapa, saya berbicara dengan ayahku. Betapa besarnya hak istimewa ini.
Diambil dari:
Judul buletin: Surat Doa No.1 Januari -- Februari 1988
Judul artikel: Teologi Doa 1
Penulis: Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit: Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta

Kontak:  doa(at)sabda.org 
Redaksi: Novita Yuniarti, Fitri Nurhana
(c) 2011 -- Yayasan Lembaga SABDA
Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
Berlangganan:  subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org 
Berhenti:  unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar