Kamis, 25 Oktober 2007

BEJANA TANAH LIAT

Suatu hari saya iseng nonton TV di ruang tamu seorang umat, sambil menunggu dia datang dari pergi. Kami sudah janjian, tapi karena ada urusan mendadak, maka dia pergi sebentar. Sambil nunggu dia datang saya dan anaknya nyetel AN-TV. Di situ ditayangkan suatu alat untuk menambah tinggi badan. Anak orang itu dengan bergurau mengatakan "sebaiknya romo beli alat itu supaya tambah tinggi sedikit." Memang sih, tubuh saya pendek sedang dia cukup tinggi. Terlintas dalam pikiran saya untuk membeli. Saya mengandaikan jika tubuh saya naik 10-15 Cm saja, mungkin saya bisa lebih hebat. Tidak ada anak berkata seperti tadi.

Ketika ayahnya datang, maka saya ngobrol dengannya. Setelah berbasa-basi sejenak, dia mulai mengatakan niatnya. Dia menawarkan apakah saya mau uang? Dia mendapat pinjaman 1 M tanpa bunga. Jika saya mau, maka saya bisa membuat proposal padanya dan mengajukan misalnya 100 juta. Uang itu bisa dicicil setelah 4-6 bulan sebanyak 10 kali. Jadi jika saya meminjam 100 juta, maka baru 4-6 bulan kemudian saya mencicil 10 juta per bulan.

Terlintas dalam benak saya, jika bunga deposito sekarang untuk 10 juta saja setelah dipotong pajak, saya terima 94.000, maka jika 100 juta, saya akan menerima 940.000 per bulan. Jika 6 bulan maka, saya akan terima 5,54 juta bersih. Setelah itu saya bisa mengambil deposito itu per bulan sebanyak 10 juta untuk mencicil hutang. Soal proyek bisa saja dibuat sembarangan, toh saya punya beberapa proyek pelayanan. Dengan demikian saya akan memperoleh dana minimal sebanyak 5,54 juta. Itu belum bunga deposito bulan ke 7 yang tinggal 90 juta, dan seterusnya. Wah saya bisa kaya dengan pinjaman ini.

Setelah bicara panjang lebar mengenai keuntungan yang bisa saya peroleh, saya pamit pulang. Saya mengendarai mobil dengan pelan-pelan sambil merancang apakah pinjaman itu akan saya ambil atau tidak. Terbayang tumpukan uang yang bisa saya peroleh. Ketika sedang asyik melamun, tiba-tiba melintas di depan saya seorang gadis yang menyeberang jalan. Wow betapa cantiknya dia. Saya berhenti sejenak untuk memberi dia jalan sambil menikmati kecantikannya. Ternyata dia pun menoleh dan melihat saya. Kami saling tatap sejenak. Dia terseyum tipis. Wah saya semakin terpesona.

Setelah gadis itu lewat, saya jalan lagi. Rosario yang digantungkan oleh anak-anak mudika di kaca spion, bergerak terayun-ayun. Saya lihat salib Yesus yang kumuh, agak hitam. Mungkin karena telah lama tergantung di spion, sehingga terkena asap dan menjadi agak hitam. Melihat salib itu saya disadarkan tentang siapa saya sesungguhnya. Saya adalah imam muda.

Saya malu dengan diri saya sendiri, mengapa saya bisa berpikir yang bukan-bukan? Teringat perdebatan di p-net tentang Yashinta. Perdebatan yang mulai melebar dari semula hanya mengkisahkan tentang Yashinta menjadi sindiran bagi para suster kemudian merembet ke para romo dan akhirnya para biarawan-biarawati. Ada yang berusaha menengahi, tapi ada pula dengan tegas mengatakan bahwa mengapa para biarawan masih "kedoyan" (mata duitan)? Mengapa ada suster yang selingkuh dengan orang tua wali murid dan imam selingkuh dengan janda? Mengapa ada suster yang mengganti VW kodok dengan honda civic? Dan masih banyak lagi, bahkan ada yang mempertanyakan kok bisa orang seperti itu jadi biarawan? Mulailah kesucian panggilan (bukan kesucian orangnya) digugat. Ada yang "menghibur" bahwa salah satu murid Yesus adalah Yudas Iskariot, seorang yang korup, tega menjual gurunya dan pengkhianat. Teringat semua itu dan bayangan-bayangan saya yang baru saja terjadi, saya menjadi malu. Kalau direnungkan secara jujur, saya tidak pantas menjalani panggilan suci ini. Saya masih mudah tergoda oleh kesombongan diri, oleh harta duniawi, oleh uang, oleh kedudukan, oleh tepukan tangan orang, oleh pujian-pujian orang, oleh perempuan-perempuan cantik. Ah saya memang tidak pantas menjadi imam. Suatu panggilan suci dari Tuhan sendiri. Suatu panggilan dari Yesus untuk mengikuti jalanNya secara khusus. Orang yang tidak kawin demi Kerajaan Allah (Mat 19:12). Ah betapa mulia dan hebatnya.

Jika saya keluar apakah semua beres? Jika teman-teman saya dan para suster menyadari bahwa dirinya masih dipenuhi oleh keinginan duniawi, tidak bisa hidup seperti Bunda Teresa dari Calcuta, lalu memutuskan keluar, apakah ini merupakan jalan yang terbaik? Banyak umat mengeluh bahwa imam dan suster sangat kurang. Di paroki Widodaren umatnya sudah berjumlah sekitar 11.000 orang. Paroki ini hanya memiliki 3 imam muda (dibawah 40 th) dan satu imam tua (87 th), apakah cukup? Jika 11.000 itu dibagi 4 orang, maka setiap imam bertanggung jawab terhadap 2750 orang. Apakah cukup? Mampukah saya mengenal 2750 orang? Bagaimana dengan teman-teman saya yang sendirian di suatu paroki dengan 3000, 4000, 5000 umat? Bagaimana dengan teman-teman saya yang jauh di Kalimantan dengan umat yang terpencar-pencar, sehingga untuk mengunjungi suatu stasi saja dia harus jalan kaki selama 7 jam? Jika semuanya menyadari bahwa dirinya masih manusia lemah, mirip Yudas Iskariot, yang lebih baik tidak lahir saja, lalu siapa yang akan memberikan sakramen pada umat? Apakah semuanya harus seperti Bunda Teresa dari Calcuta baru bisa melanjutkan panggilannya?

Menyadari kerapuhan diri dan ketidakpantasan diri, timbul berbagai pertanyaan. Mengapa saya dipakai Allah? Apakah saya orang nekat yang aksi-aksi terpanggil? Apakah saya orang sombong yang menawarkan diri pada Allah, inilah aku, pilihlah aku? Apakah saya buta akan kenyataan diri saya yang rapuh? Apakah menjadi imam ini hanya sebuah pelarian untuk hidup yang lebih mudah dan enak? Lalu mengapa banyak teman meninggalkan panggilan yang enak ini? Apakah saya orang yang tak tahu diri?

Saya terus dengan pembelaan diri. Ah saya memang bejana tanah liat. Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami (2Kor 4:7). Ya saya hanya bejana tanah liat. Rapuh, jelek, yang tempatnya di dapur bukan untuk pajangan. Mungkin di sudut dapur yang gelap. Tapi dipakai Allah untuk menyimpan kemuliaanNya. Mampukah? Jelas tidak mampu! Mengapa Allah tidak menciptakan bejana dari emas, perak, tembaga atau besi? Mengapa dari tanah liat untuk menyimpan kemuliaanNya? Paulus mengatakan supaya orang tahu bahwa kemuliaan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari kami. Jika saya bejana dari emas, mungkin orang akan melihat kemuliaan saya, bukan kemuliaan Allah. Jika saya bisa berbuat mujijat hebat-hebat dan hidup sangat suci, mungkin banyak orang akan mencari saya bukan untuk mencari Yesus. Orang akan lebih melihat kemuliaan dan kehebatan saya dari pada kemuliaan dan kehebatan Allah dalam diri saya. Jangan-jangan orang yang mengagumi Bunda Teresa, lebih melihat kemuliaan gerak Bunda Teresa dari pada kemuliaan Allah yang terpancar dari Bunda Teresa. Jika mereka melihat kemuliaan Allah yang terpancar dari Bunda Teresa, maka mereka akan semakin memuji Allah bukan Bunda Teresa. Yesus akan membuat mujijat supaya Allah dimuliakan (Yoh 11:4). Semua kembali pada Allah.

Akhirnya saya menemukan pembelaan diri yang saya rasa paling tepat. Saya memang penuh dosa, sebab saya memang bejana tanah liat yang merasa mampu menampung kemuliaan Allah dalam panggilan hidup yang suci. Tapi saya bersyukur bahwa saya masih lemah, sebab dengan demikian tidak ada orang yang mencari saya hanya kerena saya adalah Gani. Kalau toh saya mampu berbuat sesuatu yang baik, orang tidak akan mengatakan, "Ya memang Gani bisa berbuat itu" tapi "Ah, tidak mungkin Gani bisa berbuat itu. Lha wong dia itu imam yang kedoyan, seperti Yudas Iskariot." Lalu orang itu melupakan saya meski telah mendapatkan kebaikan saya. Bukankah saya harus lebih bersyukur tentang hal ini dari pada saya mendapat tepukan tangan dan dicari-cari orang yang hanya ingin melihat saya membuat sesuatu kebaikan atau mujijat? Orang yang berkata-kata penuh kekagumani, "lihat itu Gani, seorang imam yang suci dan bisa membuat mujijat hebat-hebat."?

Ya syukurlah saya masih bejana tanah liat, yang rapuh, maka saya akan terus merefleksi diri dan mengejar kesucian. Jika saya sudah suci, saya akan berhenti mengejar kesucian itu lagi. Saya masih harus berjuang, berproses mengarah kepada kesucian. Ini suatu perjalanan panjang, penuh kerikil tajam, siap membuka hati pada setiap bimbingan dari umat, teman dan pimpinan. Kalau toh saya tidak sampai kesana sampai kematian saya, ya saya tetap akan bangga bahwa saya bisa menjadi Gani bukan Bunda Teresa. Saya masih mengagumi Allah yang telah menciptakan Gani yang rapuh tapi nekat menjawab panggilanNya. Gani yang identik dengan Yudas, tapi masih berani mengikuti Yesus dari pada Nicodemus yang ahli Taurat, tentu saja saleh dan taat pada hukum, tapi tidak berani mengikuti Yesus secara terbuka. Saya masih bangga, meski bejat (jelek sekali) tapi masih punya kenekatan untuk menjadi imam, dari pada adik saya yang jauh lebih baik dari pada saya tapi tidak berani mengikrarkan kaul kemurnian, kemiskinan, ketaatan dan memberikan pelayanan sakramen-sakramen atau membina umat atau hidup sendirian di suatu tempat terpencil atau menahan sakit seorang diri atau berjalan berjam-jam untuk sekedar bertemu umat atau terbangun pada dini hari untuk mengangkat telpon dan mendengarkan keluh kesah seorang yang sedang gundah atau duduk di tepi jalan bersama anak-anak jalanan yang tidak punya teman dan membutuhkan kasih atau pulang larut malam dalam kesendirian atau duduk berjam-jam mendengarkan keluh kesah seorang istri yang hendak diceraikan oleh suaminya atau berusaha memberikan penghiburan pada orang yang sedang berduka, meski hatinya sendiri sedang dalam kesedihan mendalam atau terbangun pada tengah malam dan pergi ke rumah sakit untuk memberikan sakramen perminyakan dan memberi peneguhan pada keluarga si sakit atau............atau............

Tapi saya tidak boleh merengek seperti orang frustasi. Saya harus tetap jalan meski banyak orang mengkritik. Saya memang masih harus merefleksi diri, saya masih harus berjuang. Maka saya mohon doa, bimbingan, nasehat, kritikan, dukungan dan yang penting terimalah saya sebagai bejana tanah liat, yang jelek dan rapuh, yang seharusnya ditempatkan di sudut dapur yang paling gelap bukan di altar yang suci dan penuh cahaya ilahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar